• ...learn how to express correctly...

  • Tanggalan

    Februari 2012
    S S R K J S M
    « Jan   Mar »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    272829  
  • Kategori

  • Tweeted

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Arsip

“Sepuluh Kecelakaan Medis Yang Mengubah Standar Perawatan”

“Sebaik-baik guru adalah pengalaman, tentu saja bisa dari pengalaman diri sendiri atau dari pengalaman orang lain”

Kita harus belajar dari kesalahan. Kesalahan dapat mencelakai pasien dan dokter dalam masalah hukum dan profesi. Dengan mempelajari kesalahan-kesalahan tersebut dan mempelajari bagaimana cara mencegah, memantau, dan menanggapinya telah mengubah standar perawatan. Dengan bekerja untuk menghilangkan kesalahan medis umum, dokter dapat melindungi pasien dan melindungi diri dari tuntutan hukum.
Dibawah ini adalah beberapa kejadian yang akhirnya menjadikan standar perawatan (di Amerika) lebih baik.

Perawatan Trauma
Pada tahun 1976, Dr Jim Styner, seorang ahli bedah ortopedi, mengalami kecelakaan pesawat dan jatuh kedalam sebuah ladang jagung di Nebraska, kejadian ini mengakibatkan cedera serius. Istrinya tewas, dan 3 dari 4 anaknya menderita luka parah. Di rumah sakit lokal, perawatan yang ia dan anak-anaknya terima tidak memadai, bahkan menurut standar perawatan masa itu. “Ketika saya dapat memberikan perawatan yang lebih baik di lapangan dengan sumber daya terbatas daripada perawatan yang anak-anak saya dan saya terima di fasilitas layanan kesehatan primer, berarti ada sesuatu yang salah dengan sistem, dan sistem harus diubah,” kata Dr Styner.
Tragedi keluarganya dan kesalahan medis yang terjadi saat itu akhirnya melahirkan Advanced Trauma Life Support (ATLS) dan mengubah standar perawatan dalam satu jam pertama setelah trauma. Dr Styner membantu menghasilkan program ATLS awal. Pada tahun 1980, komite bedah bidang trauma mengadopsi ATLS dan mulai menyebarkannya di seluruh dunia. Perawatan ini telah menjadi standar perawatan trauma di bagian gawat darurat dan jasa paramedis canggih di Amerika. Perhimpunan Perawat dan tenaga medis bidang trauma juga telah mengembangkan program serupa berdasarkan ATLS.

Pemantauan Anestesi
Judy berusia 39 tahun ketika ia pergi ke rumah sakit untuk menjalani histerektomi. Setelah dia meninggal di meja operasi, terungkap dari hasil otopsi bahwa ahli anestesi telah salah meletakkan tabung endotrakeal di esofagus, bukan di trakhea.
Saat ini, ahli anestesi mengukur tingkat karbon dioksida pasien – yang jauh lebih tinggi jika berasal dari trakea daripada berasal dari esofagus- menggunakan monitor karbon dioksida end-tidal.
Pada tahun 1982, terdapat sebuah program berjudul “Tidur dalam (pembiusan): 6000 Akan Meninggal atau Menderita Kerusakan Otak” Program ini menyoroti beberapa kasus kecelakaan medis yang mengakibatkan cedera serius atau kematian. Perhimpunan dokter anestesi Amerika merespon dengan sebuah program untuk standarisasi perawatan anestesi dan pemantauan pasien yang kemudian pada tahun 1985 didirikanlah Yayasan Keselamatan Pasien Anestesi.
Praktik standar sekarang antara lain menggunakan pulsa oksimetri dan memantau karbon dioksida end-tidal untuk pasien yang dibius. Standar baru tersebut telah nyata mengurangi frekuensi cedera otak anoxic dan komplikasi utama lainnya.

Pemantauan Denyut Jantung Janin
Sally dan Ed menantikan kelahiran anak pertama mereka. Persalinan Sally sudah berlangsung lama, jadi dokter kandungannya menambahkan oksitosin untuk mempercepat prosesnya. Sayangnya, pemberian oksitosin menyebabkan gawat janin yang tidak terdeteksi, dan putri mereka yang baru lahir mengalami cedera otak parah dan cerebral palsy.
Pemantauan janin, dengan memantau baik kontraksi rahim dan detak jantung janin (DJJ) saat ini merupakan standar perawatan, dengan waktu respon 30 menit dari didiagnosis gawat janin sampai persalinan. Tujuan pemantauan DJJ adalah memantau status janin selama persalinan sehingga dokter dapat menanggulangi jika terdapat bukti adanya fetal distress, yang tercermin oleh DJJ melebihi atau di bawah kisaran normal yaitu 110-160 denyut / menit atau DJJ yang tidak berubah saat terjadi kontraksi rahim.
Pemantauan janin elektronik (electronic fetal monitoring-EFM), juga disebut pemantauan DJJ, pertama kali dikembangkan pada tahun 1960. Menurut American Congress of Obstetricians dan Gynecologists (ACOG), sejak tahun 1980, penggunaan EFM tumbuh secara dramatis, dari yang digunakan pada 45% wanita hamil hingga 85% pada tahun 2002. Pedoman ACOG menyatakan “Ketika EFM digunakan selama persalinan, maka perawat atau dokter harus rutin memeriksanya”.

Salah Amputasi
Bill mengalami kejang dan menabrakkan mobilnya ke pohon, kecelakaan ini menghancurkan kedua kakinya. Arteriografi mengungkapkan bahwa kaki kanannya dapat diselamatkan tetapi kaki kirinya tidak. Sayangnya, tekhnisi x-ray salah melabeli film tersebut, menandai ”kiri” menjadi ”kanan”, dan ahli bedah ortopedi mengamputasi kaki kanan Bill.
Mencegah operasi salah tempat menjadi salah satu tujuan keselamatan utama Komisi Bersama Organisasi Akreditasi Kesehatan (JCAHO). Antara lain dengan membuat protokol yang menjadi persyaratan akreditasi untuk rumah sakit, pusat bedah rawat jalan, dan kantor pelayanan operasi. JCAHO memandatkan standarisasi prosedur pra operasi untuk memverifikasi bahwa telah dilakukan operasi yang benar pada pasien yang benar dan di lokasi yang benar. Panduan tersebut juga mencakup pemberian tanda situs bedah, melibatkan pasien dalam proses penandaan, dan memerintahkan semua anggota tim bedah untuk memeriksa ulang di dalam ruang operasi.
Meskipun upaya ini telah dilakukan, survei JCAHO menermukan operasi salah tempat masih terjadi sekitar 40 kali seminggu dalam lingkup nasional (Amerika). Kelengahan terbesar adalah informasi yang tidak memadai tentang pasien. Solusinya adalah standarisasi metode pengumpulan informasi secara seksama.

Hitungan Spons
Tom berusia 12 tahun ketika usus buntu nya pecah dan ia dibawa ke rumah sakit anak setempat. Tiga hari setelah operasi usus buntu, ia mengalami demam tinggi. Satu minggu kemudian, ahli bedah melakukan prosedur pembedahan kedua dan menemukan bahwa sebuah spons bedah tertinggal dalam.
Penghitungan jumlah spons dan instrumen pasca operasi telah rutin dilakukan selama beberapa dekade. Tidak ada standar baku, meskipun organisasi perawat dan dokter bedah telah mengembangkan cara terbaik penghitungan jumlah spons, jarum, dan instrumen.
Berbagai cara penghitungan spons dapat digunakan dalam ruang operasi yang sama bahkan dalam kasus yang sama, kata Asosiasi Perawat Kamar Operasi. Kurangnya standarisasi menciptakan peluang untuk terjadinya kesalahan. Sebuah penelitian Departemen Layanan Kemanusiaan dan Kesehatan mengatakan bahwa kesalahan seperti ini terjadi pada 1 dari 100 hingga 1 dari 5000 orang. Sebuah studi tahun 2008 yang diterbitkan dalam Annals of Surgery menemukan bahwa kesalahan dalam penghitungan jumlah alat dan spons terjadi dalam 12,5% dari operasi. Kelompok perawat dan ahli bedah merekomendasikan bahwa setiap anggota tim bedah memainkan peran yang sama dalam menjamin akurasi penghitungan.
Baru-baru ini, produsen telah membuat spons dengan serat yang terdeteksi x-ray, sistem identifikasi frekuensi radio, dan bar coding untuk mengingatkan staf tentang spons yang hilang.

Alergi yang Fatal
Sewaktu kanak-kanak, Betty pernah diberikan penisilin, ia membiru, dan dilarikan ke rumah sakit. Ketika dia berusia 15 tahun, ia mengalami radang tenggorokan, ia diberikan penisilin, dan kemudian meninggal. Tidak ada yang bertanya tentang riwayat alergi obatnya.
Kuesioner medis selalu menyertakan riwayat alergi, hal ini menjadi jauh lebih diperhatikan setelah adanya laporan Institute of Medicine tentang keselamatan pasien pada tahun 1999.

Kecelakaan Kalium
Linda merasa tidak sehat pada trimester pertama. Mual dan muntah mengakibatkan ia menderita dehidrasi berat dan dengan tingkat kalium rendah. Dalam ruang gawat darurat, perawatnya membuat kesalahan penghitungan dan memberikan kalium intravena terlalu banyak. Dalam waktu satu jam, Linda meninggal.
Pada tahun 1980-an dan 1990-an, kelompok keselamatan pasien, termasuk JCAHO, mengarahkan perhatian terhadap kebutuhan untuk menghilangkan vial konsentrat kalium klorida dari area perawatan pasien. Sekarang, hampir semua rumah sakit AS telah memindahkan obat tersebut dari ruang perawatan pasien. Kalium sekarang ditambahkan ke infus oleh produsen dan diberi label.Kesalahan tragis yang memunculkan perubahan sistem disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang bahaya pemberian konsentrat kalium intravena yang cepat atau, lebih sering, kesalahan saat mengambil vial obat. Dengan membatasi akses terhadap obat ini telah mengurangi kesalahan yang fatal.
Strategi keselamatan tambahan termasuk diantaranya menggunakan larutan yang telah dicampur sebelumnya (premixed), memisahkan kalium dari obat lain dan menggunakan label peringatan, melarang pengeluaran vial untuk setiap pasien, dan melakukan dua kali pemeriksaan bersama apoteker.

Ulkus Dekubitus
Frank berusia 72 tahun ketika ia mengalami patah kaki kanan dalam kecelakaan mobil dan harus sembuh dalam beberapa minggu di fasilitas rehabilitasi. Para perawat tidak tahu bahwa pasien perlu untuk digerakkan secara teratur, dan Frank mengalami ulkus dekubitus yang dalam. Saat luka tersebut terinfeksi, maka kaki Frank harus diamputasi.
Menurut catatan Badan Penelitian dan Kualitas Kesehatan, setiap tahun, lebih dari 2,5 juta orang di Amerika Serikat mengalami ulkus dekubitus. Luka ini dapat berakibat fatal. Pusat pelayanan Medicare & Medicaid tidak lagi memberikan penggantian biaya tambahan untuk rumah sakit yang merawat pasien dengan ulkus dekubitus yang didapat saat dirawat di rumah sakit.
Cara utama untuk mencegah ulkus dekubitus adalah dengan memiringkan pasien secara teratur, biasanya paling tidak setiap 2 jam. Upaya untuk mengurangi tekanan untuk menghindari luka tambahan dengan memindahkan (posisi) pasien telah didokumentasikan setidaknya sejak abad ke-19. Perawatan rumah dan rumah sakit kini memiliki program untuk menghindari ulkus dekubitus dengan menggunakan pengingat jangka waktu yang diatur untuk mengurangi tekanan dan menggunakan alas yang kering. Pengalihan tekanan dengan menggunakan matrass yang khusus sekarang umum digunakan.

Teknik Mengangkat
Lillian berusia 68 tahun dengan berat badan sekitar 113 kg saat dia menjalani operasi untuk mengangkat kandung empedu nya. Hari kedua setelah operasi, dia membutuhkan bantuan untuk berjalan ke kamar mandi. Perawat Lillian, Millie, tidak cukup kuat untuk mendukungnya dan mereka berdua jatuh, menyebabkan lengan kanan Millie dan kaki kiri Lillian patah.
Sekolah keperawatan telah mengajarkan siswa untuk mengangkat pasien secara manual menggunakan proper body mechanism, seperti mengangkat dengan kaki dan menggunakan postur tubuh yang benar. Namun, menurut American Nurses Association (ANA) tekhnik ini tidak cukup untuk melindungi perawat dari beban berat, postur yang aneh, dan pengangkatan pasien yang berulang-ulang. ANA mendukung kebijakan yang menghilangkan mengangkat pasien secara manual. Tekhnik penanganan pasien yang aman antara lain dengan menggunakan peralatan seperti full-body slings, stand-assist lift, lateral transfer device, dan friction-reducing devices.

Pemeriksaan Payudara
Ketika Christy berusia 42 tahun, dokter menemukan benjolan besar di payudara kirinya. Benjolan tersebut seharusnya terlihat saat dua kali pemeriksaan tahunan sebelumnya, jika pemeriksaan dilakukan sempurna. Pada saat didiagnosis, kanker sudah tidak dapat diobati.
Pemeriksaan payudara oleh dokter, pengajaran teknik untuk pemeriksaan payudara sendiri (sadari), dan rekomendasi mammogram saat ini menjadi standar perawatan.
Mamografi dikembangkan pada tahun 1950 dan menjadi alat diagnostik umum pada tahun 1960. Ini adalah metode utama untuk mendeteksi kanker payudara dini, sehingga lebih mudah untuk diobati. Menurut penelitian asuransi, pada tahun 2005, sekitar 68% dari semua wanita AS usia 40 sampai 64 tahun telah menjalani mamografi dalam 2 tahun terakhir.
Standar waktu mamografi bervariasi, tergantung kebijakan kesehatan setempat dan riwayat pasien. Badan layanan pencegahan Amerika saat ini merekomendasikan bahwa perempuan berisiko rendah lebih tua dari 50 tahun mendapatkan mamografi setiap 2 tahun sekali. ACOG saat ini merekomendasikan mammogram tahunan untuk semua wanita berusia 40 tahun keatas.

Ini adalah beberapa contoh kesalahan medis yang menyebabkan cedera atau kematian pasien, dan lebih jauh telah merubah cara dokter dalam praktek kedokteran Amerika Serikat. Dengan menyadari bahwa semua kesalahan-kesalahan ini bisa dicegah, maka pemerintah federal dan akademi kedokteran telah mengembangkan berbagai pedoman untuk pencegahan dan pengobatan banyak penyakit.

Diterjemahakan semampunya dari
10 Medical Errors That Changed the Standard of Care
Author: Barry B. Bialek, MD
URL:http://www.medscape.com/features/slideshow/med-errors?src=mp&spon=25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: