• ...learn how to express correctly...

  • Tanggalan

    Desember 2016
    S S R K J S M
    « Des    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
  • Kategori

  • Tweeted

    Error: Please make sure the Twitter account is public.

  • Arsip

Agar Selalu Ku Ingat

“Potongan ingatan itu kurangkai menyatu agar kuingat utuhnya dirimu ….”

Ia dilahirkan di Banjarharjo, kota kecil di Brebes tanggal 15 Maret 1956. Secara fungsional merupakan anak ke 2, namun sebenarny merupakan anak ke 4, dimana ke 2 kakaknya meninggal waktu kecil. Ia tidak tinggi, dengan kulit kebanyakan orang jawa ia tergolong sedikit hitam, dan di usianya yang menginjak 40, jika kau ingin mencabut rambutnya lebih baik cabut yang hitam saja..karena rambut putihnya menutupi lebih dari separuh kepalanya.

Ia tidak dimanja, ia menjalani kehidupan sekedarnya, namun satu hal yang pasti waktu itu, ia sangat dicintai ke-6 adiknya. Berikut persaksian mereka,

“Dulu waktu ayah masih kecil, dirumah ada telur tapi sedikit, lalu sama ayah dikasih garam banyak banget…jadi kan telurnya asin tu.., lalu kita makan lauk nya (telur) sedikit2 deh..cukup jadinya…hehehe..”

“Ayah itu juara catur dan tennis meja di sini, sini om liat ada gak gen catur nurun ke kamu…”

“Ayah itu sekolahnya paling jauh…”

“Ayah suka rujak, pinter tuh ayah kalo bikin sambel rujak…”

dan juga disukai tetangga-nya,

”dulu waktu ayahmu masih kecil, dia bantu2 jualan di toko saya..”

”Juli (panggilan ayah) dulu kalau pulang sekolah langsung naik di punggungnya tukang tahu, lalu ke pasar bantuin jualan tahu”

Ingatanku padanya dimulai saat kami tinggal di Sintang, Kalimantan Barat.

Kami bangun pagi-pagi sekali, lalu sholat subuh dengannya. Setelah sarapan kami diantarnya ke sekolah, bonceng bertiga, aku dan kakakku dibelakang, sedang adikku didepan..kami tiga bersaudara waktu itu. Pulang dari sekolah ia akan ada disana menunggu kami, jika ia belum datang maka kewajiban kami adalah menunggu jemputan atau berjalan ke kantornya. Ia akan marah jika kami pergi ke tempat lain. Pulang sekolah kami diantar ke rumah, atau kadang menunggunya pulang di kantornya. Tidur siang adalah rutinitas kami setelah pulang sekolah, itu peraturannya. Peraturan lain..? masih banyak sekali, ini diantaranya,

”Ahad pagi sebelum nonton TV kerja bakti di halaman (setelah kami punya TV)”

”uang jajan tidak boleh dipakai beli mainan” (mainan hanya akan kami dapat bila ia pulang dari luar kota)

”jika meminta uang (diluar uang jajan) tidak boleh untuk jajan”

”pergi main harus sudah sholat ashar” (kadang adikku ngebut ngerjainnya karena sudah ditunggu teman-temannya)

”jam 5 sore harus sudah pulang”

”TV tidak boleh menyala dari maghrib sampai Isya”

”habis Maghrib ngaji sama-sama di ruang tamu” (seringkali ia di garasi sambil ngelap motor, jadi suara kami harus sampai kesana…dan ia mengoreksinya dari sana)

”tidak boleh makan di depan TV”

”tidak boleh nonton TV sambil baring”

”tidak boleh pergi ke tempat teman hanya untuk nonton TV” (waktu kami belum punya TV)

”tidak boleh menelpon untuk menanyakan PR” (harusnya PR udah dicatet waktu di kelas)

”nonton TV hanya sampai jam 9” (pas dimulainya Dunia Dalam Berita).

Namun satu hal yang saya ingat, ia tidak pernah mewajibkan jam belajar pada kami. Ia tidak akan memberi hadiah kalau nilai kami tertinggi di kelas. Ia juga tidak marah apabila ada salah satu diantara kami tidak mendapat ranking di kelas. Ia menganggap semua itu biasa saja. Satu hal yang sangat membuat ia marah adalah bertengkar antar saudara, ”kalau dipukul balas pukul” (kalau dengan orang lain), ”sini ayah benturkan dua kepala kalian, kalau kalian bertengkar terus” (antar saudara). Kalau memilih bercanda, tentu kami lebih senang bercanda dengannya, karena dulu ibu ”galak”. Ia akan membawa kami menjauh jika ibu sedang marah. Kami sering menaiki punggungnya saat ia duduk, atau perutnya saat ia berbaring. Kami akan memintanya membuatkan lingkaran asap dari mulutnya saat ia merokok (semoga Alloh mengampuninya). Kami akan menantangnya bermain catur lagi dan lagi, karena kami tidak pernah bisa menang. Kami akan berani meminta uang untuk jajan saat ia ada tamu, karena didepan tamu ia tak pernah menolak.

Ia pintar memasak, ia suka berkebun dan pasti ia berada di halaman hari ahad pagi, ia pintar tenis meja walau tak pernah kulihat ia bermain namun adanya meja ping-pong di rumah salah satu tandanya, ia bisa bermain tenis lapangan, ia juga bisa bermain bilyard, ia imam di mesjid dekat rumah kami, ia suka gado-gado, ia tidak suka poitik ”politik itu kotor” katanya, saat itu ia tidak terlalu suka berdagang, ”pedagang itu banyak bohongnya” katanya, dan yang pasti ia pintar, inilah sebab PR-PR ku selalu beres dengan bimbingannya,

Ia ”Ahmad Djazuli yang putih rambutnya”

Satu hal yang sangat kusesali adalah, ia tidak pernah mau jujur akan kondisinya, ia tidak pernah berkata tidak ada pada adik-adiknya, berkata sakit pada anak-anaknya. Sakit yang terakhir dideritanya menutup usianya tanggal 27 Juni 2001, tepat di tanggal usiaku bertambah menjadi 15 tahun. Saat itu aku di pondok pesantren, tidak kulihat ia di akhir hayatnya, tidak kudampingi ia di sakarotul mautnya, tidak kujaga ia selama sakitnya, namun Ayah…, ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu..dan aku akan selalu berdo’a untukmu. Satu yang kuketahui semenjak tiadamu, ibu berubah menjadi sangat luar biasa….sangat luar biasa…engkau akan bangga jika melihatnya dan melihat kami sekarang. Dan satu yang ibu katakan waktu itu,

”Sampai akhir hidupnya, ia masih menunggumu pulang sekolah”

17 Tanggapan

  1. Ahmad Fathi Fuadi, ini tulisan yang sungguh luar biasa ! Salam salut dan rindu

  2. butuh tissue thi pas baca ini….
    (T_T)
    tulisanmu bagus..

  3. terima kasih ndri…, smoga orang tua kita diberikan y terbaik oleh Alloh…
    thx for visiting…

  4. fathi, tulisanmu bagus…lg kangen sm ayahmu y…*baru lihat setelah baca “ternyata”
    i think you have a great dad, and great family…

  5. Assalamualalikum………..salam kenal kang, saya adiknya teh Aam, Istrinya bang Mansyur,,,,

    Saya sangat antusias stelah membaca artikel ini, semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya penulis,,,,,,,Insya Allah

  6. Bang, tak copas ke blog yah? ke FB juga hehehe…
    boleh ga?

  7. sungguh berkesan.. dan jadi teringat sama bapakku.. saat di telpon sering dia berkata .. kapan pulang?? semoga Alloh senantiasa menjaganya, memberi kekuatan dalam menghadapi segala cobaan.. jadilah anak yang sholeh fathi-semoga aku juga- sehingga bisa menambah pahala untuk orang tua kita… btw gmn kabar disana?? semoga senantiasa di beri kemudahan.. kmrn Hp-ku low bat..

  8. sungguh berkesan.. dan jadi teringat sama bapakku.. saat di telpon sering dia berkata .. kapan pulang?? semoga Alloh senantiasa menjaganya, memberi kekuatan dalam menghadapi segala cobaan.. jadilah anak yang sholeh fathi-semoga aku juga- sehingga bisa menambah pahala untuk orang tua kita… btw gmn kabar disana?? semoga senantiasa di beri kemudahan.. kmrn Hp-ku low bat..🙂

    • Amiin…semoga Alloh menjaga kita dan orang tua kita dan menjadikan kita anak yang sholih yang mendoakan orang tua kita…, disini Alhamdulillah baik.., dan semoga Alloh terus memberikan kemudahan….waffaqolloohu lii wa lakum ilaa kulli khoirin..

  9. Ass. Kawan !!!

    Sangat terkesan dengan tulisannya..

    Izin copas ya (ujung2nya gtu copas)

    Heheheee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: